Ramadan sehat dengan trik menghindari, meminimalkan dan menghilangkan farmolin pada makanan

Ikan yang aman dari formalin untuk Ramadan sehat

Salam Ramadan sehat sahabat,

Pada Ramadan sehat ini, saya akan mengawalinya dengan tulisan tentang trik menghindari, meminimalkan, dan menghilangkan formalin pada makanan. Kenyataannya masih ada saja oknum pedagang maupun produsen yang menggunakan formalin untuk pengawetan makanan. Padahal sudah jelas-jelas dilarang penggunaannya pada makanan lantaran berbahaya. Tapi ya itu, mungkin nuraninya tertutup atau bisa jadi tidak tahu harus bagaimana solusinya untuk mengatasi kerusakan pada produk pangan yang mereka produksi secara aman.

Sobat, sering dengar kata formalin kan? Formalin yang dijual di pasaran itu umumnya berbentuk cairan bening, baunya menyengat tajam, kandungan formaldehid di dalamnya umumnya 37% , dan biasanya ditambahkan metanol 10-15%.  Bukan material yang tidak ada gunanya sih… Tapi tidak diijinkan digunakan sebagai pengawet pada makanan. Illegal kata resminya. Saya sendiri biasanya menggunakan formalin untuk sterilisasi gudang. Memang fungsi utamanya sebagai pembunuh kuman, sehingga mestinya dipakai pada produk-produk pembersih lantai, dan produk-produk untuk pembunuh kumanlah. Kegiatan pembersihan dan sterlisasi kapal, gudang, dan tempat produksi juga seringkali menggunakannya. Ingat, bukan untuk ditelan, tertelan, termakan, terpapar…

Kalau Sobat semua kawatir terhadap resiko makanan yang kita beli terdapat formalinnya, saya coba berikan trik ini :

  1. Jangan beli makanan atau bahan pangan yang baunya aneh. Seperti bau obat gitu… baunya itu tidak alamilah intinya, teksturnya kenyal tidak selayaknya pangan aslinya, penampakannya cuantik banget bersih putih mempesona, dan indikasinya serangga tidak mau mendekat (lalat tidak mengerubuti, semut juga tidak datang). Tapi… itu kalo kandungan formalinnya di atas 100 m/kg. Nah, sekarang ini sudah banyak lho pedagang “nakal ” yang pinter ngakali. Kadar formalinnya diturunkan dalam penggunaannya. Pada konsentrasi 24-30 mg/kg sulit juga lho dideteksi dengan indera kita. Aktifitas formalin sendiri untuk pengawetan sudah “maen”, lalatpun sudah mau hinggap tuh. Tapi kucing masih sensitif. Tergolong makhluk yang paling sensitif mungkin ya….  Sayangnya nggak mungkin dong kita ke pasar mbawa-mbawa kucing. hehe… Nah kalau kita sudah berusaha dengan upaya (1) dan bahan pangan mengandung formalin dosis rendah terbeli sama kita, kita masuk ke point 2
  2. Cobakan bahan pangan yang beresiko menggunakan formalin ke kucing. Kasih cicip sedikit ke kucing… Kalo dia mau memakannya, aman tuh berarti. Kalo dia nggak mau, ya…. kita masuk point 3
  3. Cuci bahan pangan yang beresiko mengandung formalin  tadi dengan air mengalir. Ingat, formalin bersifat larut dalam air, diharapkan  pencucian dapat  mengurangi formalin. Untuk bahan pangan yang kering bisa direndam dalam air dan kemudian air rendamannya dibuang. Lebih afdol lagi menggunakan perendam air leri (air cucian beras). Tapi pastikan berasnya tidak berpengawet ya… Penurunan formalin dengan air umumnya mahanya mampu maksimal 60%. Dengan menggunakan air leri bisa mencapai 66%. Denan sistem perendaman dengan air garam bisa mencapai 80% an. Yaitu dengan memanfaatkan sistem transport difusi osmosis.
  4. Bahan pangan yang beresiko mengandung formalin tadi  dimasak sebelum dikonsumsi. Sifat Formalin ini dapat menguap, sehingga kalau kadarnya rendah berpeluang hilang dengan proses pemasakan. Formalin ini reaktif pada kondisi alkali. Sebaiknya hindari memasaknya dengan menambahkan soda atau menggunakan alat masak dari alumunium.  Memasak dengan menambahkan asam tentu akan lebih ok.
  5. Selamat menjalankan ibadah puasa. Salam Ramadan sehat

Ingat!
Harus tetap waspada memilih makanan atau baan panan yang dibeli. 

Keberadaan formalin merusak protein, sehingga otomatis terjadi penurunan nilai gizi dan penurunan daya cernanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *