Kompor Biomassa (Tungku Biomassa) yang Baik dan Layak Edar Harus Memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 7926:2013), Kinerja Tungku Biomassa

kompor biomassa
Kompor biomassa

Salam mandiri energi,

Kompor biomassa  yang baik dan layak Edar  harus memenuhi Standar Nasional Indonesia,  yaitu SNI 7926:2013 tentang Kinerja Tungku Biomassa. Masih banyak lho masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan (lebih dari 40%) memasak dengan kayu. Potensi biomassa lainnya yang berlimpah di negara kita juga sangat besar dalam menyediakan bahan bakar memasak untuk rumah tangga. Biomassa yang potensial tersebut adalah cangkang kelapa sawit, cangkang kemiri, dan limbah pertanian lainnya.

Nah sayangnya, tungku biomassa konvensional yang digunakan masyarakat masih  mengeluarkan asap sangat banyak, berjelaga tinggi dan boros bahan bakar. Walaupun seandainya kayunya tidak membeli sekalipun,  paling tidak mereka sudah meluangkan banyak waktu untuk mencari kayu/ranting yang  kemudian digunakan untuk memasak. Tentunya ini bisa kita konversi juga sebagai nilai, walaupun terbilang murah dibandingkan masak dengan bahan bakar fosil (minyak tanah maupun LPG). Dan alangkah sayangnya jika dibakar dengan tingkat pemborosan tinggi  yang berakibat cepat habis, serta polutan yang tinggi dari reaksi pembakarannya.

Resiko Berbahaya

Akibat paling berbahaya dari  polutan  pembakaran tungku konvensional  adalah resiko penyakit pernapasan. Hal ini karena pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan zat CO (karbon monoksida) yang berbahaya dan partikel-partikel halus (partikulat molekular) yang berukuran sangat kecil sehingga tidak tersaring hidung dan dengan mudah menembus paru-paru dan masuk dalam peredaran darah.

Karbon monoksida bersifat reaktif mengikat oksigen pada darah. Sehingga apabila konsentrasi dalam darah tinggi akan menyebabkan kekurangan oksigen. Akibatnya, dada terasa sesak, napas tersengal-sengal dan bila terjadi terus menerus tubuh menjadi rentan terserang penyakit.

Adapun partikulat molekuler merupakan zat yang  terdispersi di udara. Partikulat molekuler hasil dari pembakaran yang tidak sempurna  pada konsentrasi di atas ambang batas, akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikulat berukuran 5-10 μm bisa lolos dari saringan bulu hidung hingga mencapai bronchus. Ini berpotensi terbentuk flek pada bronchus, dan akan sangat mengganggu dan memberatkan personil potensial asma.  Sedangkan pada ukuran  dibawah 5 μm bisa masuk ke alveolus, dan pada ukuran kurang dari 0,5 μm akan melekat pada dinding alveoli yang tentunya sangat menghambat pertukaran oksigen dengan karbonmonoksida.  Pada kondisi seperti ini asupan oksigen ke dalam tubuh akan mengalami masalah dan paru-paru akan terjadi penurunan fungsinya jika terjadi terus menerus. Efek partikulat molekuler ini akan semakinbertambah bahayanya jika komposisi kimia yang terkandung bersifat toksik.

Itulah yang menyebabkan asap dari pembakaran tidak sempurna dari penggunaan tungku konvensional berbahaya, yang potensi menyebabkan penyakit pneumoconiosis, granuloma (jaringan yang mengalami peradangan), kanker paru-paru,

Oleh karena itu Standar Nasional Indonesia untuk tungku Biomassa dibuat untuk melindungi masyarakat Indonesia agar terhindar dari resiko penyakit berbahaya karena memasak dengan bahan bakar biomassa.

Kabar Baik

Maka memasaklah dengan  kompor biomassa yang sudah lolos uji SNI. Karena dalam SNI sudah mengatur batas nilai emisi CO (karbon monoksida) maupun partikulat molekuler.

Salam Mandiri Pangan & Energi,

Menik Sumasroh, Komite Teknis 2704 Rancangan Standar Nasional Indonesia Bioenergi

Note : Untuk mendapatkan kompor biomassa yang sudah lolos uji SNI, lihat :

www.komporbioenergi.com

www.tatukune.com

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *