Eksotisme Sekam dalam Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Eksotisme Sekam dalam Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Eksotisme Sekam dalam Mewujudkan  Kemerdekaan yang Sesungguhnya.

Yuk kita melihat bagaimana Eksotisme Sekam dalam Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungguhnya.

Produksi Gabah Indonesia setahun sebanyak 75,398 juta ton (tahun 2015). Prosentase sekam pada gabah sebesar 20%. Berarti ada potensi biomassa   sebesar 15.079.600 ton tiap tahun yang bisa dimanfaatkan untuk energi.

Jumlah KK di seluruh Indonesia sebesar  66.206.416 (berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa, 2017).

Umumnya setiap keluarga membutuhkan pelet sekam 1 kg/hari  untuk memasak.

Berarti kebutuhan energi untuk memasak di  rumah tangga masyarakat Indonesia sebesar 24.099.135 ton per tahun. Ini hanya 1/3 dari potensi biomassa sekam yang tersedia!!!

Eksotis kan…

Kita bisa mandiri energi Bro! Berlebih lho…

Lantas, kemaren-kemaren itu  kenapa kita harus gelontorkan aggaran yang sangat besar  untuk melakukan kegiatan seremonial sebagai upaya konversi minyak tanah ke LPG, yang sudah nyata bakalan beresiko. Kemudian bertrilyun-trilyun subsidi dikucurkan untuk pemakaian gas LPG di rumah tangga. Sebagai ilustrasi, subsidi LPG pada tahun 2014 sebesar 49 Trilyun. Padahal saat ini impor LPG sudah lebih dari 60%. Kemudian, disaat masyarakat sudah nyaman dengan pengunaan LPG, direncanakan  pembelian LPG bersubsidi harus menggunakan kartu miskin tahun 2018 nanti.

Haduuuh….

Kita ini penghasil padi.   Masyarakat kita makan beras.  Artinya ketersediaannya akan terus menerus ada selama kita masih makan nasi.

Wow… Ini eksotisme sekam yang bisa kita manfaatkan dalam mewujudkan kedaulatan energi menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.

 

Ancaman Krisis Energi

Fakta bahwa cadangan minyak Indonesia sebesar 4 miliar barel akan habis dalam 12 tahun kedepan (Proyeksi ini menggunakan asumsi tingkat produksi sebesar 900.000 barel per hari). Jadi, jika trend konsumsi energy kita seperti sekarang ini, maka 12 tahun lagi KRISIS ENERGI. Ini sungguh mengerikan!

Semua lapisan masyarakat bersikap seperti tidak akan pernah terjadi apa-apa. Tidak ada persiapan, tidak ada rasa was-was untuk menggenjot penggantinya. Ngeri!

Padahal terbentuknya minyak bumi ini membutuhkan waktu yang sangat sangat lama. Perlu Jutaan tahun, karena menunggu menjadi fosil dulu baru terbentuk minyak. Memang akan selalu terbentuk. Tapi, kecepatan terbentuk dengan kecepatan pengambilan tidak berimbang. Sehingga investasi untuk mencari sumber baru seringkali tekor. Bisa balance dengan penerimaan saja,  itu sudah sangat bagus.

Di satu sisi, menyiapkan pertanian, pembangunan, teknologi, kultur social dan need masyarakat, serta suplai yang pas itu perlu waktu. Perlu pentahapan untuk mencapai volume sesuai kebutuhan. Apa tidak kacau balau nantinya, kalau road map yang sudah dibuat pemerintah masih belum terlaksana???

Jadi… Sudah Merdekakah kita?

 

Sekam  menjadi Masalah atau Berkah?

 

Sepanjang perjalanan  saya  bersama  saudara-saudara sealumni IPB ke Sukatani Bekasi  tampak gunungan sekam di setiap usaha penggilingan padi yang kami lalui. Gunungan sekam ini  adalah limbah dari konversi gabah menjadi beras saat pengupasan gabah menjadi beras..

Sekam sebagai  Limbah penggilingan padi masih menjadi masalah karena menghambat  penanganan beras yang siap untuk didistribusikan, jika gundukannya tidak segera dibuang.  Untuk membuangnya membutuhkan biaya pengarungan dan pengangkutan. Biaya…. lagi.  Berat jika menjadi  bagian dari biaya produksi beras. Petani untungnya makin tipis dan masyarakat makin terbebani.

Tahu sendirilah… Selalu petani dan rakyat yang dikorbankan untuk memikul permasalahan yang ada. Pedagang bisa dipastikan akan selalu mengambil untung. Masyarakat mau nggak mau membeli karena masih perlu makan nasi. Petani mau nggak mau menjual hasil pertaniannya karena butuh penyambung hidup.

Lantas bagaimana? Gundukan sekam itu  tambahan beban masalah atau berkah ?

Dengan  tertindasnya petani secara terus menerus, apakah ini yang namanya  sudah merdeka?

 

Konversi sekam menjadi Energi

Mengubah sekam menjadi energi terbarukan untuk memasak masyarakat Indonesia sangatlah mungkin dilakukan.

Ketersediaannya berlimpah dan terus ada. Tunggu apa lagi? Kita tak harus menunggu krisis energi menerpa bukan???

Kita semua pasti sepakat kalau kita perlu makan. Dan sebagian besar makanan yang kita makan perlu di masak terlebih dahulu. Kebayang nggak kalau energi yang sudah biasa digunakan masyarakat menghilang dan kita belum melek bahwa di sekitar kita berlimpah ruah energi. Duh…

Yuk kita melek dulu dengan konversi sekam menjadi energi untuk memasak.

Yuk kita bandingkan potensi pelet sekam sebagai bahan bakar  dengan bahan bakar yang sudah sangat familier di masyarakat, agar kita bisa merasakan eksotisme Sekam dalam Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungguhnya.

Membandingkan LPG dg Pelet Sekam

  • Harga resmi LPG tabung isi 12 kg : Rp. 142.000,- berarti Rp. 11.800,-/kg
    Harga di warung Rp. 170.000,-/tabung, berarti Rp. 14.200,-/kg
  • Harga resmi LPG tabung melon isi 3 kg : Rp. 15.500,-, berarti Rp. 5.200,-/kg
    Harga di warung Rp. 20.000/tabung, berarti Rp. 6.700/kg

Berarti pemeriontah menggelontorkan subsidi Rp. 6.600,- per kg LPG yang dibeli masyarakat.

Masyarakat  membeli LPG Rp. 6.700,- per Kg  sampai Rp. 14.200,- per kg LPG untuk memasak.

Di daerah bahkan ada yang sampai Rp. 25.000,- per kg LPG.

Nah sekarang kita lihat kandungan energi pada sekam dan LPG ya…
•Konten energi LPG 48 MJ/kg, sedangkan konten energi pelet sekam 16 MJ. Jadi 1 kg LPG setara dengan penggunaan 3 kg pelet sekam.
•Harga pelet sekam Rp. 1.500/kg. Jadi 3 kg pelet sekam Rp. 4.500,-

Kalau ini digunakan masyarakat, pengeluarannya lebih hemat sekalipun dibandingkan dengan LPG bersubsidi. Apalagi jika dibandingkan LPG non subsidi.

Untuk pemerintah, kalau saja masyarakat diberikan pelet sekam gratis untuk memasak, negara bisa menghemat Rp. 2.167/kg dibandingkan subsidi LPG. Berapa trilyun penghematannya ya…

Keren dong…. Masyarakat merdeka untuk memasak karena tidak harus beli bahan bakarnya dan Pemerintah menghemat pengeluarannya. Merdeka betul kan… Ketersediaannya ada berlimpah ruah.

Bandingkan dengan LPG yang impornya sudah lebih dari 60 %. Merdeka apanya??? Berdaulat darimana???

Merdeka itu kita bisa berdaulat pada kebutuhan hakiki rakyat! Pangan, Energi dan Lingkungan yang merupakan  kebutuhan hakiki manusia.

kita  butuh  merangkai kekerenan indonesia  dan bukan mencabiknya…

Kita butuh personil pejuang yang bersama-sama mewujudkannya. Personil yang akan merubah sejarah!

Dan itu adalah Anda! Ya… saya percaya itu, karena anda sudah bersemangat membaca artikel ini sampai selesai. Berarti atensi anda sangat besar untuk hal ini. Silahkan berkomentar untuk memberi masukan solutif bagi masyarakat, umat, bangsa dan negara.

Sekam memang teramat eksotis dalam mewujudkan kedaulatan energi. Ya…. Eksotisme Sekam Bisa Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungguhnya.

Merdeka!!!

 

Baca juga :

Menuju Subsidi Gas LPG Tepat Sasaran di Indonesia

 

Laboratorium Nasional pengujian Kompor

Video memasak singkong dengan cangkang sawit

Video memasak krupuk dengan kompor cangkang sawit

Jual Kompor Biomassa di Indonesia (potensi reseller)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *