Kemerdekaan yang Sesungguhnya adalah Merdeka dari Hegemoni Kapitalisme Dunia

Kemerdekaan yang sesungguhnya bagi kami adalah merdeka dari hegemoni kapitalisme dunia
Kemerdekaan yang sesungguhnya bagi kami adalah merdeka dari hegemoni kapitalisme dunia

Kemerdekaan yang Sesungguhnya  adalah Merdeka dari  Hegemoni Kapitalisme Dunia.

Kemerdekaan yang sesungguhnya bagi kami adalah merdeka dari hegemoni kapitalisme dunia, yang teramat sangat mencengkeram  dan memeras sekencang-kencangnya keringat rakyat negeri ini.. Sadis! Karena mereka menyengsarakan berkepanjangan dalam kepedihan.

Penguasaan  oleh pihak tertentu terhadap  negara lainnya melalui kepemimpinan dan moral secara consensus. Sementara personil negara yang dikuasai , secara  tidak sadar menyepakati nilai-nilai ideologis sang penguasa dunia. Sungguh sangat mengerikan…

Hasil akhir yang dikehendaki adalah kaum kapitalis terus berjaya, dan rakyat selamanya menderita.

Hegemoni Kapitalisme Dunia

Menarik sekali mencermati hegemoni kapitalisme dunia.

System Ekonomi Kapitalisme  mengajarkan kalau perkembangan Ekonomi  akan terwujud, bila semua aktor Ekonomi  fokus pada akumulasi Kapital (modal).

Mereka lalu membuat siistem Perbankan, dengan aturan perbankan Internasional yang rente. Tidak peduli bank syariah atau yahudi, semua harus mengacu pada system rente ketetapan mereka. Tidak bisa mengelak! Semua perbankan! Semua!

Lantas siapakah yang  akan memakai uang di Bank itu?

Pasti mereka yang dapat penuhi ketetapan utang (credit) dari Bank, yakni : Fix return serta Agunan. Konsekwensinya, cuma entrepreneur besar serta sehat sajalah yang juga akan dapat penuhi ketetapan ini.

Pegusaha kecil yang memperoleh akses ini cuma jadi lipstick pemanis gagasan mereka.

Siapakah mereka itu?

Mereka itu tidak beda yaitu golongan Kapitalis, yang telah memiliki perusahaan yang besar, untuk jadi semakin besar sekali lagi. Tahu kan, cuma sedikit saja perusahaan kecil yang dapat bankable.

Untuk golongan Kapitalis pasti tak ada kata cukup. Mereka menginginkan terus  membesar.

Lewat cara apa?

Yakni dengan Pasar Modal. Dengan pasar ini, beberapa pelaku usaha  cukup cetak kertas-kertas Saham untuk di jual pada orang-orang, dengan iming-iming juga akan di beri Deviden.

Siapakah yang memakai kehadiran Pasar Modal ini?

Dengan kriteria untuk jadi Emiten serta penilaian Investor yang begitu ketat, ya… hanya perusahaan besar serta sehat saja, yang bisa jualan  saham di pasar modal ini.

Ajibnya, jualan saham itu seperti jual kacang goreng. Masyarakat yang mempunyai uang lebih percaya begitu saja.

Golongan Kapitalis  yang telah memiliki perusahaan besar, pengen semakin besar sekali lagi.

Lewat cara apa sekali lagi?  yakni dengan “memakan perusahaan kecil”.

Bagaimana langkahnya?

Menurut Teori Karl Marx, dalam pasar Persaingan perebutan Bebas, ada Hukum Akumulasi Kapital (The Law Of Capital Accumulations), yakni perusahaan besar juga akan “memakan” perusahaan kecil.

Misalnya, bila di satu lokasi terdapat banyak toko kelontong yang kecil, jadi cukup dibuat satu mal yang besar. Dengan itu beberapa toko itu juga akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar lakukan ekspansinya?

Pasti dengan di dukung oleh dua instansi terlebih dulu, yakni Perbankan serta Pasar Modal.

Supaya perusahaan Kapitalis bisa semakin besar lagi, mereka mesti dapat memenangi Persaingan perebutan Pasar.

Persaingan perebutan Pasar cuma bisa dimenangkan oleh mereka yang bisa jual produk-produknya dengan harga yang paling murah.

Bagaimana langkahnya?

Yaitu dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti : pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, serta yang paling tragis yaitu penguasaan lahan..

Lalu, lewat cara apa perusahaan besar bisa menguasainya?

Lagi-lagi, sudah pasti dengan support permodalan dari dua lembaganya, yakni Perbankan serta Pasar Modal.

Bila perusahaan Kapitalis menginginkan semakin besar sekali lagi, jadi langkah selanjutnya yaitu dengan “mencaplok” perusahaan punya negara (BUMN) .

Dengan apa perusahaan besar lakukan ekspansinya?

Pasti dengan di dukung oleh dua instansi terlebih dulu, yakni Perbankan serta Pasar Modal.

Supaya perusahaan Kapitalis bisa semakin besar sekali lagi, mereka mesti dapat memenangi Persaingan perebutan Pasar.

Persaingan perebutan Pasar cuma bisa dimenangkan oleh mereka yang bisa jual produk-produknya dengan harga yang paling murah.

Bagaimana langkahnya?

Langkahnya yaitu dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti : pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, serta yang paling tragis yaitu penguasaan tempat.

Lalu, lewat cara apa perusahaan besar bisa menguasainya?

Lagi-lagi, sudah pasti dengan support permodalan dari dua lembaganya, yakni Perbankan serta Pasar Modal.

Lalu bagaimana langkahnya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN.

Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut.

Bagaimana mungkin BUMN mau merugi kalau sudah berbentuk perum persero?  Padahal ruh BUMN adalah pasal 33 UUD 1945. Dimana Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Artinya, suatu waktu BUMN harus siap merugi untuk membackup kebutuhan dan kemudahan bagi kemakmuran rakyat, dalam koridor produktif tentunya. Bukan merugi karena akal-akalan korupsi.

Jika dengan cara ini kaum Kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor Kekuasaan itu sendiri.

Kaum Kapitalis harus menjadi Penguasa, sekaligus  sebagai Pengusaha yang paham permasalahan usaha.

Negara adidayanya mengutus hamba-hambanya di posisi penguasa.

Untuk menjadi Penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya Kampanye itu tidak murah.

Bagi kaum Kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah,

Jika kaum Kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka Hegemoni (pengaruh) Ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan Hegemoni ini. Karena kunci regulasi sudah di tangan.

Namun, apakah masalah dari kaum Kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata Hegemoni Ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup.

Mereka justru akan menghadapi problem baru.

Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses (kelebihan) produksi.

Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen.

Lantas, ke mana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya?

Dari sinilah akn muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan Hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang, yang padat penduduknya.

Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya, tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum Kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

 

Jika Kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya.

Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah.

Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

 

 

Berikutnya adalah menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, Kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya:

UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi).

 

 

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu.

 

Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah.

Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai Kurs Mata Uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan Sistem Kurs Mengambang Bebas (Floating Rate) bagi mata uang lokal tersebut.

Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh Pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas).

Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya.

Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya.

Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah.

Bagaimana caranya?

Yaitu dengan melakukan proses Liberalisasi Pendidikan di negara tersebut.

Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan Subsidi bagi pendidikannya.

Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi.

Akibatnya, banyak pemuda pintar yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Hanya orang-orang kaya lembek mentalnya yang bersekolah tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya.

 

Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah.

Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan Sarjana.

Sarjana yang tidak terampil, yang terlalu banyak bicara, dan maunya digaji tinggi. Apalagi mentalnya lembek, terbiasa diberikan kemudahan-kemudahan dalam tumbuh kembangnya.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara Hegemoni Kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan Intervesi UU.

Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi.

Nah, cara inilah yang akan menjamin proses Intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus.

Caranya adalah dengan menyusupkan personil-personil di jabatan strategis.

Mereka harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum Kapitalis dunia.

Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut.

Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat.

Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum Kapitalis itu sendiri.

Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka.

Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua?

Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

 

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM.

 

Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan Pengembangan Masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil, maupun industri kreatif lainnya.

Kaum Kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini.

Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu:

(1) Masyarakat akan tetap memiliki daya beli, (2) akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, (3) negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini Kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”.

Sejarah panjang telah membuktikan bahwa Ekonomi Kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya Krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya.

Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya.

Apa itu?

Ternyata sangat sederhana.

Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bail-out) atau Stimulus Ekonomi.

Dananya berasal dari mana?

Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari Pajak rakyat.

 

Dengan demikian, jika terjadi Krisis Ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya?

Jawabnya adalah:

Rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini?

Kaum Kapitalis akan tetap jaya, dan rakyat selamanya akan tetap menderita.

Itulah mengapa Kemerdekaan yang Sesungguhnya  bagi Kami adalah merdeka dari  Hegemoni Kapitalisme Dunia

Solusi

Yang perlu kita lakukan adalah :

Waspada dengan hegemoni kapitalisme dunia

Bersinergi  untuk menyatukan puzzle-puzle potensi sumber daya yang ada. Yakinlah bahwa kita memiliki Sumber daya manusia dan  sumber daya alam yang luar biasa yang Tuhan limpahkan kepada kita.

Ayo kita buat gerakan business model sharing ekonomi.dengan masyarakat.

Galang kekuatan bersama!

Kita bangsa yang Besar dan harus berkeyakinan Besar.

Kita pasti bisa memasuki pintu kemerdekaan yang sesungguhnya.

Kita bisa menjadi  bangsa yang berdaulat!

Ya…. Kemerdekaan yang Sesungguhnya  bagi Kami adalah merdeka dari  Hegemoni Kapitalisme Dunia.

 

Baca juga :

Eksotisme Sekam dalam Mewujudkan Kemerdekaan yang Sesungg

Menuju Subsidi Gas LPG Tepat Sasaran di Indonesia

Laboratorium Nasional pengujian Kompor

Video memasak singkong dengan cangkang sawit

Video memasak krupuk dengan kompor cangkang sawit

Jual Kompor Biomassa di Indonesia (potensi reseller)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *