Hari Anak Nasional Mengangkat Masalah Kekerasan Pada Anak ?

Hari Anak Nasional Mengangkat Masalah Kekerasan Pada Anak ?
Hari Anak Nasional Mengangkat Masalah Kekerasan Pada Anak ?

Hari Anak Nasional  Mengangkat Masalah Kekerasan Pada Anak ?

Mencermati berita-berita yang muncul di Hari Anak Nasional kemaren 23 Juli 2017.  Rasanya saya terusik untuk bertanya , Perlukah  Hari Anak Nasional mengangkat masalah Kekerasan Pada Anak ?  Pokok topic yang diangkat adalah kekerasan pada anak yang masih banyak terjadi, dengan Tema Perlindungan Anak dalam Keluarga.   Mendengarnya saja sungguh membuat ngeri…. Nggegirisi.   Tetapi  apa ya hanya sekedar itu?  Apakah kalau tidak dilakukan kekerasan berarti dilakukan pelembutan? pemudahan? Pemanjaan? Bukankah banyak hal yang harus dibangun.  Bagaimana menset generasi secara holistic? Bagaimana kolaborasinya dengan pendidikan dalam keluarga dan dengan pendidikan Sekolah? Bagaimana evaluasi dengan tranding topik bunuh diri pada remaja yang baru menginjak dewasa ?

Perlindungan Anak dalam keluarga memang harus dilakukan. Tapi masih buaaanyak masalah lain yang harus dipikirkan secara visioner , dan disosialisasikan pada peringatan Hari Anak Nasional. dan ada yang jauh lebih penting dari itu adalah mengasah kepekaan pada anak. Kepekaan rasa dan kepekaan untuk berbuat. Anak-anak adalah gambaran generasi yang akan datang. Penyiapan generasi ini mestinya sungguh-sungguh dilakukan.  Output apa sih yang akan kita kehendaki  untuk Indonesia 10 tahun yang akan datang? Bagaimana budaya masyarakat pada masa itu? Bagaimana ketangguhan masyarakat pada 20 tahun yang akan datang? Bagaimana mereka akan menyikapi lingkungan yang berubah? Baik lingkungan alam, maupun  lingkungan peradaban?

Kepekaan

Realitas dalam kehidupan  sehari-hari  sekarang ini menunjukkan bahwa  Generasi masa kini mengalami kemiskinan rasa kemanusiaan.  Hingga kita sering mendapati sebagian orang yang berwatak keras dan melakukan pembenaran dengan kacamatanya sendiri dengan sikap dan tindakan  keras. Ada juga yang sangat ramah, tetapi setelah tercapai maksud dan tujuannya berubah sikapnya 180 derajat.  Seperti gambaran tayangan sinetron yang kerapkali ditayangkan di berbagai stasiun TV di Indonesia. Hm…

Keceriaan pada anak-anak memang sangat bagus sekali diramaikan dan di budayakan, terlebih pada peringatan Hari Anak Nasional. Membahagiakan merek.  Senantiasa menyalami mereka dengan kemuliaan. Memberikan pujian yang tulus atas prestasinya. Mengarahkan mereka kembali pada kebenaran dan kebaikan saat mereka berbuat salah.  Memberikan bantuan yang memang benar-benar mereka butuhkan tanpa memudahkan semua urusannya. Selalu  melingkupinya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Tetapi tetap konsisten pada rule yang semestinya. Dan selalu mengajarkan dan member contoh untuk  tidak mudah berprasangka, menyebar gossip, apalagi fitnah.

Dalam kaitannya dengan lingkungan, perlu  memberikan pemahaman bahwa bumi ini dipakai bersama-sama  oleh seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan. Bagaimana  atmosfir ini digunakan bersama-sama oleh semua makhluk. Bagaimana memberikan inputan bahwa  pemakaian energy terbarukan itu adalah kebutuhan (need). Bukan sekedar pilihan suka atau tidak suka  ( like or dislike ). Bahwa pemakaian energy bersih akan mengurangi polusi. Mengatasi risk krisis energy. Produksinya melibatkan banyak orang yang terkait, bak dari pertaniannya maupun produksi dan pemasaran serta distribusi. Potensi penyerapan tenaga kerja.  Potensi menggerakkan ekonomi pedesaan, Potensi mengatasi Global Warming, dan potensi Indonesia yang sejahtera.

Memang dibutuhkan pemikiran yang VISIONER untuk Indonesia yang lebih baik. “The New Indonesia”. Eforia pada Hari Anak Nasional, alangkah indahnya jika mengangkat ruh Mengasah Kepekaan pada Anak. Dimana masalah kekerasan pada anak menjadi  salah satu bagian masalah yang harus segera teratasi. Semoga Hari anak Nasional tahun ini dilanjutkan dengan tahapan-tahapan untuk Indonesia dimasa mendatang yang lebih baik. The New Indonesia.

 

Baca juga :

Meninggalnya Oka Mahendra seharusnya menyentil kita orang tua

Meninggalnya Oka Mahendra adalah pelajaran bagi kita

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *