cerita saya seputar SBMPTN

Cerita saya seputar SBMPTN

Saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saya mengikuti SBMPTN.  Taukan kepanjangnya? Yaps, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri. Kalo diliat dari tanggal saya memposting tulisan ini, bisa dibilang saya baru ikut SBMPTN sebulan-dua bulan yang lalu. Dan itu yang pertama kalinya saya mendaftar. Maklum, saya baru lulus SMA.

 

SBMPTN susah nggak sih?.

 

cerita saya seputar SBMPTN

Pendapat saya pribadi, saya akan bilang kalau soal-soalnya susah!. Bisa dibilang, soal-soal SBMPTN adalah soal yang hell banget. Selama saya belajar di SMA, nggak ada tuh… tingkat kesulitan yang separah soal SBMPTN. Bahkan, UN saja tidak sesusah itu. Bukan maksud menyepelekan, tapi—ehem! nilai UN saya diatas 8 (matematika & bahasa inggris diatas 9 *bahagia tanpa batas*) semua selain matapelajaran pilihan, yaitu biologi. Balik lagi kepermasalahan awal, meski susah, kalian nggak harus pesimis duluan. Selama ada niat dan usaha serta kepercayaan diri, siapa aja berkemungkinan untuk lulus di SBMPTN.

 

 

Anda lolos SBMPTN?

cerita saya seputar SBMPTN

Mungkin agak memalukan untuk bilang…tapi…. saya  lolos! (alhamdulillah wkwkwk). Saya lolos pada pilihan pertama, yaitu Kedokteran Hewan-IPB.  Jurusan ini sebenarnya adalah hasil kompromi dengan orangtua saya yang sebelumnya persistent agar saya masuk kedokteran (manusia).  kenapa milih IPB?, karena jurusan kedokteran hewan IPB adalah jurusan tertua, jadi lebih banyak punya sejarah. Awalnya saya was-was kalau bakal ketendang diurutan terakhir saat proses seleksi. Karena, dari hasil riset (yang merupakan perkiraan saya sendiri), beberapa pendaftar jurusan ini adalah jurusan pelarian dari anak-anak yang minat kedokteran. Disinilah saya berasumsi bahwa apabila anak-anak ini (yang mungkin saja nilai SBMPTN nya lebih besar dari saya, namun ketolak di kedokteran) menjadi saingan, maka persentasi saya lolos di jurusan ini akan semakin tipis. Alhamdulillah, saya berhasil lolos.

 

 

SBMPTN menyediakan 3 pilihan jurusan untuk dipilih, jika pilihan pertama FKH IPB, pilihan anda yang sisanya apa?.

                Jujur, disini lah bagaimana saya lebih was-was terhadap hasil SBMPTN. IPB adalah kampus yang populer, termasuk institut yang bagus (yang menurut saya kedua setelah ITB. Tapi nggak usah dibandingin juga, wong jelas-jelas keduanya beda :v). Dan siapa sih yang nggak mau masuk kampus populer?. Apalagi jurusan Kedokteran Hewan yang masuk kedalam 10 jurusan terpopuler di IPB (artinya saingannya ketat). Selain kampus ini, saya nggak tertarik pada kampus lainnya. Saya berpikir, kalau saya nggak keterima dikampus ini, saya nggak bakal produktif menjadi mahasiswa kedepannya. And, as for the result saya pilih ke-3 pilihan itu IPB semua!. Teman-teman saya bahkan menceramahi saya karena memilih IPB di ketiga pilihan tersebut, dan bukannya memilih kampus yang standar keketatannya lebih rendah. Yah… paling nggak, jurusan yang saya pilih, tingkat keketatannya menurun kebawah. Saya pilih teknologi produksi ternak dipilihan ke-2 , dan pilihan ke-3 teknologi hasil ternak. Yaps, kalau anda lihat jurusan-jurusan yang saya pilih,  semuanya berhubungan dengan hewan ternak, karena disitulah minat saya. begitulah salah satu cerita saya seputar SBMPTN.

Bagaimana perasaan anda setelah SBMPTN?

LEGA!.  Selesainya saya bener-bener nggak mikirin tentang ujian-ujian selanjutnya, karena fokus saya emang SBMPTN aja.  Meski begitu, saya nggak bisa menghilangkan perasaan was-was karena kampus yang saya pilih. Kebetulan, teman saya memberitahu kalau tempat lesnya menyediakan quick count. Itu semacam tempat untuk memprediksi hasil seleksi di SBMPTN yang diikuti oleh orang lain dari seluruh indonesia (kenyataannya nggak sebanyak itu kok). Saat pertama masuk, saya disuruh untuk menginga-ingat jawaban yang ada di soal SAINTEK (ada juga SOSHUM). Setelah dihitung berapa benar dan salahnya, lalu masukkan poin-poin hasil akhirnya. Terus, memasukkan hasil TPA nya. Di TPA ini, kita, para peserta quick count, hanya mempresiksi berapa benar dan salah dari soal yang kita jawab. Tidak benar-benar dikoreksi dengan kunci jawaban seperti saintek, karena soal TPA nggak boleh dibawa pulang. Pendapat saya pribadi, dipart ini saya diuji untuk menguji  seberapa percaya diri kah saya (nggak usah dipahami toh nggak apa).

Setelah semua poin saya masukkan, saya cukup kaget karena nama saya langsung berada pada urutan ke-7 pada jurusan kedokteran hewan-IPB dari sekitar 15 pengguna quick count yang milih jurusan itu juga. Di pilihan ke-2 dan ke-3 saya masih menempati posisi pertama. Semakin hari, posisi saya di FKH makin merosot menjadi ke-12. Pilihan ke-2 jadi ke-2. Pilihan ke-3 tetap.

 

Berapa soal dari semua soal SAINTEK dan TPA yang anda jawab?

cerita saya seputar SBMPTN

Eits…. ini termasuk aib nggak ya? Wkwkwkw. Meski memalukan, saya mengisi soal SAINTEK  sekitar 28 soal (seingat saya) dari 60 SOAL!. Disini aja saya udah pesimis hehehe. Untuk TPA nya, alhamdulillah, saat itu adalah skor pencapaian tertinggi saya dalam banyaknya soal yang saya kerjakan. Biasanya hanya sekitar 40 soal dalam waktu yang disediakan. Namun, karena keajaiban apa, di SBMPTN saya menjawab 60-an dari 90 soal. Dalem hati saya mikir, mungkin ini adalah payback dari soal SAINTEK yang Cuma bisa ngerjain segitu (*nangis dipojokan*). Meski begitu, saya cukup confident untuk TPA saya. Karena selama try out sendiri dirumah, matdas, numerik, & bahasa inggris selalu hampir benar semua. Wajar saja kalau saya nggak punya kecurigaan terhadap jawaban yang salah di bagian itu. Dan sebagai informasi, saya nggak menjawab bahasa Indonesianya (hanya 1 soal, dan nggak tahu sudah benar atau belum). Ituloh,  yang satu soalnya bejibun dengan paragraf. Kenapa?, karena saya benar-benar lemah di bahasa sendiri. Dari hasil-hasil try out dirumah, sekitar 80% soal yang saya jawab SALAH semua!. Maka dari itu, di SBMPTN yang REAL, saya nggak mau ambil resiko. Perhitungan kaya begini itu penting banget loh untuk meningkatkan peluang.

 

Apa ada kendala saat mengerjakan soal?

 

ADA. Tapi bukan karena soalnya susah (sebenarnya itu juga sih), tapi karena saat pengerjakan soal, alarm NYALA!.  Saat itu saat sedang mengerjakan soal SAINTEK. Karena alasan ini juga, saya tidak bisa mengisi banyak soal. Saya tidak fokus karena mendengar alarm HP saya di tempat penaruhan tas. Tempatnya berada di depan, jadi saat bunyi, hampir semua peserta ujian nengok-nengok, nyari-nyari pelaku alarmnya. Dalem hati, saya mau izin kepengawas untuk matiin hp, tapi setelah saya pikir-pikir ulang, saya akan terlihat seperti nyontek!. Maka dari itu saya membiarkan alarm terus nyala. Sialnya, alarm itu nyala hingga satu jam penuh.

 

Kendala yang k-2. Saya tidak tahu kalau waktu ujian tengah berlangsung. Iya, saya tahu saya bego disitu. Saya menghabiskan 5-6 enam menit waktu ujian dengan celengoan ngeliat jendela. Saya tidak tahu kalau ternyata ujian sudah dimulai. Saya sadar saat pengawas memperhatikan saya terus menerus. Saya pikir saya terkenal, ternyata nggak (wkwkwk). Dari tatapan pengawas dengan mata hitamnya itu saya mulai peka. Ternyata….selama ini…. (*ambil tisu ngelap airmata*)…..UJIAN UDAH DIMULAI!. Saya lihat peserta lain sudah membuka soal, bahkan sudah ada soal yang diisi (saya bukan nyontek loh. Lagian kode soalnya bisa jadi beda).

 

Anda lolos karena les?

 

Nggak tuh. Saya nggak ikut les. Saya hanya latihan soal dari soal SPMB,SNMPTN (yang dulu), trus SBMPTN. UN juga begitu. Saya berpikir kalau soal UN relatif gampang karena tipe soal yang akan keluar nyaris sama setiap tahun. Jadi, kita bisa prediksi di bagian mana kita harus belajar lagi. Tapi saya juga bukan semata-mata dapet nilai bagus karena belajar dari buku sendiri. Di kelas tiga, saya mulai menggunakan voucer zenius hanya sampai bulan februari ( nggak full terpakai setiap hari sih). Kalau boleh jujur, nilai rapot saya nggak bagus-bagus amat. Saat kelas 1 dan kelas 2 SMA, saya bukan orang yang biasa orang bilang “murid pintar”. Bahkan saya nggak benar-benar ngerti dengan konsep-konsep yang ada di fisika dan kimia. Kadang saya mikir, kok saya bisa naik kelas? (wkwkwk, semua akibat campur tangan guru).

Memahami kalau saya akan masuk perguruan tinggi, saya mulai belajar dirumah…….dengan membolos. Orangtua saya tidak melarang toh, saya sudah pastikan kalau saya belajar. Kalau dihitung-hitung dari total izin & absen dirapot, mungkin hampir sebulan lebih saya ngebut belajar dengan Zenius (membolos). Tapi, kalau membolos tentu akan ada banyak tugas menunggu, terutama tugas kelompok yang melibatkan orang lain. Saya sering di protes sama teman karena hal ini. Padahal, ujung-ujungnya juga akan saya kerjakan, tapi masih saja mereka protes. Akhirnya, selama membolos, saya menekatkan diri untuk me non aktifkan HP saya. Tujuannya agar saya nggak frustasi lihat chat temen saya yang bejibun karena saya tidak masuk-masuk. Dalam pikiran, saya tetap tekadkan diri untuk fokus belajar dari pada meniru teman-teman saya (yang entah berfikir apa) memilih untuk melakukan hal tidak produktif disekolah (nggak semuanya sih).

cerita saya seputar SBMPTN

Tapi bukan itu alasan saya nggak ikut les. Bisa dibilang, saya bukan orang yang aktif berkegiatan. Otomatis saya berpikir kalau les adalah bentuk untuk melelahkan diri. Kita dipaksa belajar di waktu yang sudah ditetapkan tanpa peduli mood. Bisa jadi kita mau break sekitar 5 menit dulu, atau mau belajar sambil makan, tiduran, gelantungan, dll. Maka dari itu, saya memilih zenius. Itu juga karena kakak saya (yang masuk management UI dengan latar belakang aneh karena dari IPA SMA ke SMK pertanian lalu milih SOSHUM), menggunakan Zenius juga. Apalagi pelajaran biologi yang saya pikir banyak banget hapalannya, jadi nggak begitu susah dipelajari.

Jangan salah kira, usaha saya untuk belajar nggak sampai situ. Saya sering begadang untuk belajar materi & try-out SBMPTN. apalagi 2 minggu terakhir SBMPTN, rasanya udah nggak cocok kalau kita masih belajar materinya. 2 minggu terakhir saya udah buat jadwal di kalender untuk soal-soal dan buku-buku apa yang harus saya kerjakan. Saya mengerjakan buku-buku lama milik kakak tertua saya yang sekarang menempuh jenjang s2. Saya kerjakan—lalu lihat kunci serta penjelasannya. Harus benar-benar dipahami penjelasannya, kalau bisa di kerjakan berulang kali agar bisa dapet konsepnya. Hal ini saya lakukan terus menerus hingga hari H.

Ya, begitulah review singkat usaha saya pada cerita saya seputar SBMPTN 😀 .

 

Author: Nurul Huda

Mau ikutan lomba blog deadline 22 juni? klik disini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *